makalah

Minggu, 10 Juni 2012 - Diposkan oleh izudinjosep@gmail.com di 18.11

Analisis:
BAB 10
KULTUR PERADAABAN BANGSA INDONESIA

- Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling kuat kultur peradabanya, adat berbagai adat sangatlah mereka jaga, baik itu peradaban yang diwarisi oleh nenek moyang maupun kultur yang mereka ciptakan sendiri di lingkungannya. Seiring dengan perkembangan yang tiada henti, adat yang terjaga tersebut sirna karena adanya pengaruh-pengaruh dari negara-negara luar, dimana negara luar ingin merubah Indonesia menjadi negara industri, sedangkan masyarakat Indonesia sendiri binggung atau belum menguasai sepenuhnya tentang industri yang diusahakan oleh negara-negara luar tersebut, karena negara luar sendiri tidak mau memperdulikan budaya yang ada di indonesia
- Orang Indonesia merupakan aktor dimana fenomena sosial sebagai bentuk perilaku yang aktornya bisa berupa individu atau kelompok didalam masyarakat luas, setiap perilaku sehari-hari haruslah dibaca melalui diktum-diktum budaya yang tidak tertulis, banyak hal yang terasa aneh, karena fenomena sosial itu berakar dari berbagai kejadian-kejadian yang spontan, bila orang indonesia yang memiiki kognisi yang cukup, tidak mau berpikir panjang dan hanya mengikuti alur yang berjalan akan terkikis oleh perkembangan budaya yang sedang berkembang di sekelilingnya.
- Kemerdekaan indonesia tidak sepenuhnya menjadi lebih baik tetapi malah menjadi buruk pada sisi tatanan nilai yang dibangun atas dasar peradaban eropa dan itu tercermin pada tatanan birokrasi, tatanan birokrasi tersebut langsung diterima oleh masyarakat indonesia tanpa adanya filter. Dilain pihak masyarakat yang berada diluar konteks budaya itu tetap berada didalam budaya lokal, mereka mengalami ketidak stabilan kehidupan akibat perlawanan terhadap penjajah secara terus menerus. Budaya peradaban barat terbukti ikut merwarnai proses terbentuknya budaya peradaban Indonesia, karena budaya peradaban penjajah itu masuk melalui perantaran-perntaraan yang dibuat atas dasar kekuasaan birokrasi penjajah.
- Dengan demokrasilah nilai-nilai budaya diturunkan dari generasi didalam alam penjajahan itu kepada generasi kemerdekaan secara damai dan tidak terputus, serta tidak mengalami kehilangan nilai yang berarti. Orang Indonesia tidak menyadari bahwa didalam diri bangsa yang merdeka itu tersimpan dan teralokasi nilai-nilai yang tidak bertuan.
- Pada kenyataannya bangsa Indonesia lahir secara prematur (keterpaksaan akibat kebencian dan dendam terhadap belanda) bangsa ini hidup secara negatif dengan kekuatannya sendiri tanpa mengalami pola anak asuh (sampai kemudian pola itu dipaksakaan pada masa orde lama dan orde baru sampai reformasi sekarang ini, dan hasilnya menjadi tidak karuan. Bilamana kemerdekaan Indonesia di mulai dengan jalan damai mungkin bangsa ini tidak akan seperti yang sekarang ini.
- Tubuh yang sudah tercabik-cabik oleh musuh dari luar, sekarang terkoyak-koyak lagi oleh komponen-komponen sistem tubuh itu sendiri. Pemberontakan terjadi dimana-mana, yaitu pada pemberontakan G 30 S/PKI. Kondisi tersebut tak lain lagi kalau bukan karena kekuasaan semata dan rasa iri yang tidak terhenti. Hal tersebut masih berjalan sampai sekarang, kita tidak pernah menyadari bahwa orang-orang di samping kita adalah musuh kita, kita berdekatan satu sama lain, tetapi hati kita terpecah belah dan memntingkan diri sendiri, bangsa ini tidak akan menadi baik bila hal terus berjalan.
- Ketinggalan di bidang ekonomi memang memalukan, tetapi ketinggalan di bidang persatuan dan peradaban nilai budaya lebih memalukan lagi bagi bangsa ini.

Analisis:
BAB 11
INVOLUSI BANGSA INDONESIA

- Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman, berlipah-limpah kekayaan di sekelilingnya, semua itu percuma untuk di bicarakan, kalau hanya bicara tentang keadaan Indonesia yang hanya mengunggulkan budaya dan lingkunan tetapi tidak mau memperbaiki.keadaan yang akan menjadi jurang kehancuran negara ini.
- Orang Indonesia mempunyai kreativitas, tetapi kreativitas itu bergerak ke dalam, sentripetal, bergulung, dan bergumpal-gumpal bagaikan benang kusut yang tidak karuan. Masing-masing orang akan bertahan mempertahankan posisinya yang semakin terjepit dan dalam relung sempit itu tanpa ada daya cipta keluar karena ketidakberdayaan. Suatu bentuk kreativitas devensif yang hanya untuk bertahan hidup dari kepunahan. Karena semakin tinggi kreativitas cita rasa karya seni tersebut, maka semakin sedikit yang mampu menikmatinya, karena adanya keterbatasan-keterbatasan.
- Bangsa Indonesia secara makro sedang mengalami proses involusi yang kritis, hal ini sebenarnya sudah dirasakan oleh masyarakat Indonesia, akan tetapi masyarakat Indonesia hanya mengetahui dan merasakannya tanpa mau memperbaiki.  
- Keruwetan perilaku adalah akibat langsung dari keruwetan cara berpikir, ada semacam involusi pemikiran yang melahirkan involusi pada peradaban, banyak contoh keruwetan yang lahir dari pola pikir yang ruwet sehingga kita sulit membebaskan diri darinya. Keterbatasan modal juga menjadi alasan kuat terhadap pemikiran involutif, padahal kelemahan sebenarnya terletak pada keterbatasan dan keterbutuhan pola pikir. Gerakan pemberantasn korupsi misalnya akan sulit berhasil di kala hampir semua orang berpikir tentang sulitnya hidup dari gaji yang ada, dan sulitnya berada ditengah orang lain yang menikmati korupsi dengan aman.
- Memasuki alam kemerdekaan, ternyata tidaklah berarti meninggalkan dan mengatakan selamat jalan terhadap revolusi yang sudah dilakukan oleh para penjajah, sampai sekarang kita tetap dijajah dengan tehnologi yang canggih.

Analisis:
BAB 12
GLOBALISASI DAN MARJINALISASI BUDAYA TRADISIONAL

- Globalisasi hanya akan membawa Indonesia semakin terpuruk, karena bangsa Indonesia menjadi wadah bagi para kaum kapital untuk menjadi sarang perdagangan yang notabenya masyarakat Indonesia ini semakin tergiur dengan adanya tehnologi yang semakin canggih dan tanpa mau memperdulikan kerugian negara atas apa yang dia lakukan.
- Adanya sistem peradaban baru yang dibawa oleh negara-negara luar akan menjadi semakin buruk, karena akan berbenturan dengan sistem yang lama, hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadinya keos antara sistem yang baru dan yang lama, bila sistem yang baru harus di jalankan, maka sistem yang lama harus di hapus, pada akhirnya nilai-nilai luhur bangsa Indonesia akan berubah drastis. Sebagai negara bagian dunia ketiga, Indonesia mau tidak mau harus menuruti penyesuaian struktural yang di putuskan oleh IMF dan Bank Dunia untuk libeeralisasi pasar bebas yang diaplikasikan melalui jalur perekonomian dunia ketiga, sebagai negara yang mengalami persoalan hutang. Wujud globalisasi seakan-akan konsep yang dianggap mampu membawa kesejahteraan bagi negara-negara Dunia Ketiga. Akan tetapi Globalisasi,sebagai bentuk kolonialisasi negara luar kepada negara Dunia Ketiga.
- Logika kapitalisme dunia adalah memainkan peran dengan komando kebijakan politik institusi negara. Hal itu berarti bahwa globalisasi merupakan dampak ikutan dari ideologi kapitalisme, daripada kapitalisme sebagai dampak dari globalisasi. Globalisasi tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, akan tetapi bersangkutan dengan masalah sosial, budaya, dan politik, karena persoalan globalisasi bisa menyangkut teknologi, informasi, pasar dunia, dan juga logika kapitalisme.
- Demokrasi merupakan salah satu nilai dari budaya global seluruh dunia. Terdapat upaya-upaya sistematis dari negara-negara maju untuk memberikan kesan bahwa demokrasi sebagai “tolak ukur kemajauan” suatu negara atau masyarakat. Demokratisasi merupakan sebuah “virus”, dan juga menjadi suatu komoditas politik negara-negara maju untuk melakuakan tekanan-tekanan terhadap negara Dunia Ketiga. Paham Demokrasi yang ditanamkan sebagai bentuk pemerintahan masyarakat modern, berusaha diadopsi oleh sebagian besar negara Dunnia Ketiga tanpa menoleh ke belakang terhadap nilai-nilai budaya lokal yang ada. Negara Dunia Ketiga lebih banyak membaca, mendengar, dan melihat berita tentang negara maju daripada tentang sesama negara Dunia Ketiga. Bahkan ironisnya, negara Dunia Ketiga menerima informasi tentang dirinya sendiri dan peristiwa dunia lainnya menurut kacamata dan analisis Negara maju.
- Globalisasi ternyata akan membawa dampak pada bentuk hegemoni yang lain, yaitu pada bidang budaya atau peradaban lainnya. Segala macam data (bahan mentah) dan kasus-kasus yang terjadi di negara-negara Dunia Ketiga diolah sedemikian rupa oleh Negara maju. Berbagai bentuk budaya seperti kesenian, music, mode, selera makanan, arsitektur, pandangan hidup, dan hubungan sosial kemasyarakatan, tampaknya telah diinterbalisasi oleh sebagian besar negara Dunia Ketiga.
- Sebagai sebuah negara yang menerima akibat, seharusnya ada upaya-upaya untuk merndam semua itu melalui proses penyesuaian-penyesuaian, agar tidak terjadi cultural shock atau keguncangan budaya. Ide boleh global meskipun tindakan lokal, artinya perlu ada dorongan bagi setiap negara Dunia Ketiga untuk tetap mempertahankan nilai-nilai lokal meskipun gagasan tersebut memiliki dampak global.
- Pola-pola penyeragaman yang luar biasa pada selera makanan, cara-cara berpakaian, bahkan budi bangsa dan membanjirnya kata-kata asing, ternyata melahirkan budaya baru di mana-mana. Sebagian besar masyarakat Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, merasa rendah diri jika masih bertahan dengan selera makanan tradisional yang sebenarnya lebih sehat dan lebih alami. Demikian pula dengan cara-cara berpakaian. Setiap perubahan mode yang terjadi di barat dalam hitungan hari dengan cepat diadopsi, tanpa mempertimbangkan segi moralitas dan kepatutan. Musik-musik Barat, tarian-tarian bugil, erotisme, sebagai manifestasi berkesenian, telah berhasil menenggelamkan kesenian-kesenian tradisional yang sarat dengan nilai moral dan secara ideal tidak kalah tinggi nilainya dari kesenian Barat. Hal ini menjadi lebih memperhatinkan, ketika keberadaan berbagai budaya global tersebut menjadi tolok ukur apakah suatu kota telah menjadi metropolitan, kosmopolitan, modern, atau masih tradisional.
- Kearifan lokal seolah-olah mati suri dan tidak berdaya berhadapan dengan budaya dunia, orang menjadi tidak memiliki “rasa malu” sebagai wujud kesederhanaan dan introspeksi diri. Harmoni sosial sebagai manifestasi dari solidaritas mekanik telah mengalami pergeseran kearah solidaritas organisasi yang cenderung kompetitif.
- Dampak globalisasi telah menghancurkan unsur-unsur lokal. Budaya tradisional, secara bertahap telah mengalami pengikisan dan segera tertutup oleh perkembangan budaya global. Komitmen masyarakat yang begitu tinggi terhadap kontrol sosial melalui “budaya malu” dan pengendalian diri, selama dekade akhir ini telah mengalami pengikisan, akibat gencarnya budaya modern, materialistis dan individualis. Sebagian masyarakat lebih merasa malu jika telah gagal meraih pengumpulan materi, daripada gagal dalam menjaga amanat kepercayaan publik. Oleh karena itu, reformasi diberbagai bidang (sosial, budaya, ekonomi, dan politik) yang terjadi akhir-akhir ini, tidak seharusnya berhenti pada tahapan dekonstruksi, tetapi harus ditindaklanjuti dengan proses rekonstruksi. Upaya rekonstruksi tersebut seharusnya dimulai dengan revitalisasi budaya tradisional yang selama ini dipandang masih efektif menjadi bentuk kontrol sosial.

Komentar:
- Kenapa Indonesia merasa keputusan yang di ambil oleh IMF dan Bank Dunia harus kita jalani, apa tidak ada jalur alternatif?. Setidaknya Indonesia mempunyai lahan yang begitu melimpah ruah, ikan dilautan juga banyak dari lahan dan laut yang berada di Indonesia ini, sebagai bangsa Indonesia kita wajib memberi yang terbaik, dengan memanfaatkan lahan tersebut secara baik, para mahasiswa setidaknya bisa member solusi agar tanah yang dibiarkan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, ikan dilaut bisa di kelola dengan bagus. Kalau di setiap lahan di Indonesia di manfaatkan dengan baik maka Indonesia akan menjadi negara yang tidak tertinggal, dan tidak menjadi negara yang terinjak-injak, daripada mengikuti alur-alur yang di cetuskan oleh negara-negara luar, tetapi kita malah menjadi budak mereka, dan budaya Indonesia kita sirna hanya gara-gara negara luar.
- Perlu ditekankan lagi, bahwa pemerintah wajib ikut memberi dukungan yang serius, itupun bila pemerintah ingin Indonesia maju dan tidak menjadi negara yang tertinggal dan terinjak-injak oleh negara luar.
- Buat apa kita mencari ilmu dengan jenjang yang paling tinggi, tetapi kita tidak bisa membuat perubahan yang bermakna bagi negara ini.

- Bangsa Indonesia ini sudah tidak karuan dan perlu adanya pembenahan yang bagus, bentuk pembenahan yang harus di utamakan adalah dengan membentuk karakter bangsa, mewajibkan setiap orang mengetahui apa yang di namakan sebagai karakter bangsa yang baik, tidak hanya dengan mengetahui tetapi harus mempraktekkannya, karena karakter bangsa jika hanya dimaknai sendiri dalam otak kita, maka akan terjadi kemunduran yang tiada arti.

- Kerusuan yang terjadi akibat ulah-ulah manusia yang tidak bermoral, tidak mempunyai karakter sebagai bangsa Indonesia dan hanya merebutkan tahta semata. Maka dipastikan bangsa ini akan hancur terus-menerus.

Reaksi: